Lompat ke konten

Sebelum Alam Kehilangan Nafas

oleh Kinanthi Ramadhani Adinda
Negeriku bernapas dari gunung yang menjulang tegak, Hutan berdiri setia menahan laju banjir, Laut membentang, kaya oleh ribuan pulau, Danau dan sungai mengalirkan kejernihan. Di sanalah kenikmatan hidup bersemi, Mengukir jati diri bangsa tanpa pamrih. Namun manusia kerap angkuh dan lupa diri, Menebang, menggali, mencemari tanpa henti. Saat bencana datang, alam yang disalahkan, Seolah ia lalai menjaga kehidupan. Pantas alam murka, pantas ia meraung, Kesedihannya menjelma banjir, longsor, Dan sunyi yang perlahan menenggelamkan kehidupan. Maka biarlah puisi ini menjadi tamparan, Pengingat bahwa kita hidup berdampingan. Bukan sekadar mempertahankan dan mewarisi, Namun merawat dan menjaga dengan nurani. Sebelum alam benar-benar kehilangan napas, Dan kehidupan tinggal jejak yang terhapus.

Punya Puisi untuk Dunia?

🌱 Setiap bait adalah benih, biarkan ia tumbuh di Daily Papers.

Kirim Puisimu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *